Monday, February 2, 2009

tafsir alquran(asignment AQS)

AL FAATIHAH (PEMBUKAAN)

MUQADDIMAH

Surah "Al Faatihah" (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri
dari 7 ayat adalah surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap
diantara surat-surat yang ada dalam Al Quraan dan termasuk golongan
surah Makkiyyah.

Surah ini disebut "Al Faatihah" (Pembukaan), karena dengan surah
inilah dibuka dan dimulainya Al Quraan.

Dinamakan "Ummul Quraan" (induk Al Quraan) atau "Ummul Kitaab" (induk
Al Kitaab) kerana dia merupakan induk dari semua isi Al Quraan, dan
kerana itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap sembahyang.

Dinamakan pula "As Sab'ul matsaany" (tujuh yang berulang-ulang)
karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sembahyang.

Surah ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan
seluruh isi Al Quraan, yaitu :

1. Keimanan :

Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana
dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas
suatu ni'mat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber
segala ni'mat yang terdapat dalam alam ini.

Diantara ni'mat itu ialah : ni'mat menciptakan, ni'mat mendidik dan
menumbuhkan, sebab kata "Rab" dalam kalimat "Rabbul-'aalamiin" tidak
hanya bererti "Tuhan" atau "Penguasa", tetapi juga mengandung erti
tarbiyah iaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa
segala ni'mat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan
dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang
Maha Berkuasa di alam ini.

Pendidikan, penjagaan dan Penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah
diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga
menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah
keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna
bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan
masalah yang pokok, maka didalam surat Al Faatihah tidak cukup
dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh
ayat 5, yaitu : "Iyyaaka na'budu wa iyyaka nasta'iin" ( hanya Engkau-
lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon
pertolongan).

Janji memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman
terhadap perbuatan yang buruk. Yang dimaksud dengan "Yang Menguasai
Hari Pembalasan" ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala
sesuatutunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap ni'mat dan takut
kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi
pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan
yang buruk. "Ibadat" yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan
kepada Allah, selanjutnya lihat not 66 .

2. Hukum-hukum :

Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk
memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "Hidayah" disini
ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan
dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan mahupun akhlak,
hukum-hukum dan pelajaran.

3. Kisah-kisah :

Kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah.
Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Quraan memuat kisah-kisah para
Nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang. Yang dimaksud
dengan orang yang diberi ni'mat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para
shiddiqin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa'
(orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang
saleh). "Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat,"ialah
golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Perincian dari yang telah disebutkan diatas terdapat dalam ayat-ayat
Al Quraan pada surat-surat yang lain.

AL-FATIHAH (PEMBUKAAN)
SURAh KE 1 : 7 ayat

(1:1)
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [1]

(1:2)
Segala puji [2] bagi Allah, Tuhan semesta alam. [3]

(1:3)
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

(1:4)
Yang menguasai [4] di Hari Pembalasan [5]

(1:5)
Hanya Engkaulah yang kami sembah, [6] dan hanya kepada Engkaulah kami
meminta pertolongan. [7]

(1:6)
Tunjukilah [8] kami jalan yang lurus,

(1:7)
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada
mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan)
mereka yang sesat. [9]


# [1] Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut
nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan
menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih haiwan dan
sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah
dengan sebenar-benarnya, yang tidak memerlukan makhluk-Nya, tapi
makhluk yang memerlukan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu
nama Allah yang memberi pengertian bahawa Allah melimpahkan kurnia-
Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi
pengertian bahwa Allah senangtiasa bersifat rahmah yang menyebabkan
Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

# [2] Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatan-nya
yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji
Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatanNya yang baik. Lain
halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang
terhadap ni'mat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi
Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut
dipuji.

# [3] Rabb (Tuhan) bererti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki,
Mendidik dan Memelihara. Lafaz "rabb" tidak dapat dipakai selain
untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait
(tuan rumah). 'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan
yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam
manusia,alam haiwan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan
sebagainya. ALlah pencipta semua alam-alam itu.

# [4] Maalik (Yang Menguasai) dengan memanjangkan "mim",ia berarti:
pemilik. Dapat pula dibaca dengan "Malik" (dengan memendekkan mim),
artinya: Raja.

# [5] Yaumiddin (Hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-
masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang
buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumul-hisaab,
yaumuljazaa' dan sebagainya.

# [6] Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan
yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran ALlah, sebagai
Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai
kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

# [7] Nasta'iin (minta pertolongan), diambil dari kata isti'aanah:
mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang
tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

# [8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata "hidayaat": memberi
petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini
bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik.

# [9] Yang dimaksud dengan "mereka yang dimurkai" dan "mereka yang
sesat" ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

PENUTUP
Surat "Al Fatihaah" ini melengkapi unsur-unsur pokok syari'at Islam,
kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al Quraan yang 113
surat berikutnya. Persesuaian surat ini dengan surah "Al Baqarah" dan
surat-surat sesudahnya ialah surah Al Faatihah merupakan titik-titik
pembahasan yang akan diperinci dalam surat Al Baqarah dan surat-surat
yang sesudahnya. Dibahagian akhir surat "Al Faatihah" disebutkan
permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan ke-jalan yang
lurus, sedang surah "Al Baqarah" dimulai dengan penunjukan "al
Kitaab" (Al Quraan) yang cukup sempurna sebagai pedoman menuju jalan
yang dimaksudkan itu.

No comments:

Post a Comment